Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya volume sampah organik rumah tangga, Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Jambi menghadirkan terobosan melalui program Kampung JEMARI (Sejinjang Maju dan Berdikari). Program ini menjadi wujud nyata penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat, di mana setiap sumber daya dimanfaatkan kembali dalam satu siklus keberlanjutan yang saling menguatkan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Kampung JEMARI lahir dari semangat masyarakat Kelurahan Sejinjang untuk menjawab persoalan yang sudah lama dihadapi: penumpukan sampah, keterbatasan lapangan kerja, dan menurunnya kualitas lingkungan. Dengan pendampingan Pertamina FT Jambi, kawasan ini bertransformasi menjadi contoh konkret bagaimana konsep circular economy mampu diterapkan secara praktis dan berdampak langsung bagi warga.
Segalanya berawal dari upaya mengolah sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sampah sayuran dan buah-buahan yang sebelumnya menumpuk di tempat pembuangan kini menjadi media tumbuh larva BSF. Dalam satu tahun, lebih dari sepuluh ton sampah organik berhasil dialihkan dari TPA. Larva yang dihasilkan kemudian diolah menjadi pakan ternak kaya protein, menggantikan pakan pabrikan yang mahal. Proses sederhana ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah dan emisi metana, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Di tangan masyarakat Sejinjang, sampah kini bukan lagi masalah, melainkan sumber daya bernilai.
Dari keberhasilan tersebut, rantai ekonomi sirkular pun meluas ke sektor peternakan. Pertamina FT Jambi mendampingi masyarakat membangun peternakan ayam pedaging adaptif yang memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp sebagai sumber energi utama. Kandang ayam kini beroperasi sepenuhnya dengan energi bersih untuk penerangan dan pompa air. Maggot hasil pengolahan sampah menjadi pakan utama, sehingga biaya produksi turun signifikan hingga sebelas juta rupiah per tahun. Limbah kotoran ayam pun langsung dikelola bersama maggot sehingga tidak menimbulkan bau maupun pencemaran. Sistem ini menciptakan siklus tertutup antara energi, pakan, dan limbah yang efisien sekaligus ramah lingkungan.
Tak berhenti di sana, masyarakat juga mulai menanam sayuran secara hidroponik di pekarangan rumah sebagai bentuk adaptasi terhadap lahan sempit dan rawan banjir. Melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, warga belajar mengembangkan sayuran seperti pakcoy dan selada untuk konsumsi harian sekaligus menambah pendapatan keluarga. Pertanian hidroponik menjadi bagian penting dari siklus circular economy di JEMARI, karena hasil panen dipupuk dengan limbah frass dari budidaya maggot dan peternakan ayam. Dari sampah menjadi pakan, dari pakan menjadi pupuk, lalu kembali menjadi pangan seluruh proses berjalan tanpa limbah yang terbuang.
Integrasi antarunsur inilah yang menjadikan Kampung JEMARI sebagai model ekonomi sirkular yang hidup. Limbah organik rumah tangga diolah menjadi maggot, maggot menjadi pakan ayam, kotoran ayam dan residu maggot diolah kembali menjadi pupuk organik, kemudian pupuk digunakan untuk menyuburkan tanaman hidroponik dan kebun kakao warga. Hasil pertanian yang dihasilkan dikonsumsi dan dijual, sementara sisa organiknya kembali masuk ke siklus awal. Rantai ini menciptakan aliran ekonomi dan ekologi yang saling menopang secara berkelanjutan.
Di balik inovasi teknis tersebut, penguatan kelembagaan menjadi kunci keberhasilan program. Empat kelompok usaha lahir dan tumbuh mandiri: Bina Mandiri, Usaha Sehati, Rezeki 3 Putra, dan Gapoktan Sejinjang. Melalui sembilan kali pelatihan sejak 2022, masyarakat dibekali keterampilan teknis, manajemen usaha, serta pemasaran produk. Lebih dari dua puluh perempuan rawan sosial ekonomi turut aktif dalam pengelolaan hidroponik dan produksi olahan pertanian, memperkuat peran perempuan dalam ekonomi rumah tangga. Kini, pendapatan rata-rata penerima manfaat meningkat hingga 4,2 juta rupiah per bulan, melampaui UMK Provinsi Jambi, dengan dampak yang menjangkau 75 penerima manfaat langsung dan sekitar 250 penerima manfaat tidak langsung di sekitar kawasan.
Pada September 2025, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun melakukan verifikasi independen terhadap implementasi program Kampung JEMARI. Hasilnya menunjukkan bahwa model integrasi ini tidak hanya berjalan efektif, tetapi juga memberikan dampak ganda yang terukur bagi lingkungan dan ekonomi warga. Secara lingkungan, pengelolaan lebih dari sepuluh ton sampah organik per tahun mampu mengurangi emisi karbon sebesar 61,9 ton CO₂e per tahun serta menekan emisi amonia hingga 54,8 kilogram. Sementara dari sisi energi, PLTS 4,4 kWp yang digunakan menghasilkan efisiensi sebesar 4.803 kWh per tahun.
Pencapaian ini menempatkan Kampung JEMARI sebagai program dengan kategori beyond common practice, karena model integrasi antara maggot, ayam, hidroponik, pupuk organik, dan energi surya belum banyak diterapkan di tingkat nasional maupun internasional. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat diwujudkan dari tingkat komunitas melalui pendekatan sederhana namun terintegrasi.
Lebih dari sekadar mengelola limbah, program ini juga memperkuat hubungan sosial masyarakat. Gotong royong tumbuh kembali sebagai fondasi utama keberhasilan. Warga belajar untuk bekerja sama, berbagi manfaat, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari keseharian. Semangat itu menjadikan JEMARI bukan hanya program CSR, tetapi juga gerakan sosial menuju kemandirian energi dan pangan lokal.
Program Kampung Sejinjang Maju dan Berdikari (JEMARI) merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Jambi dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pencapaian target net zero emission 2060. Melalui kerja kolaboratif dengan masyarakat dan dukungan LPPM Hsamangun sebagai verifikator independen, Pertamina memastikan setiap langkah program memiliki akuntabilitas dan dampak keberlanjutan yang terukur. Inisiatif ini juga berkontribusi langsung terhadap delapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan, energi bersih, kesetaraan gender, hingga penanganan perubahan iklim.
Kampung JEMARI membuktikan bahwa ekonomi sirkular bukan hanya konsep, melainkan praktik nyata yang dapat dijalankan di tingkat masyarakat. Dari sampah menjadi pakan, dari energi menjadi peluang, dan dari kolaborasi lahir harapan baru. Inilah bukti bahwa langkah kecil dari komunitas dapat memberikan kontribusi besar bagi bumi yang lebih hijau dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Tentang Program Kampung JEMARI
Program Kampung Sejinjang Maju dan Berdikari (JEMARI) merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Jambi dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular. Program ini mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, energi bersih, pertanian produktif, dan pemberdayaan sosial dalam satu siklus yang saling memperkuat.
Pelaksanaan dan verifikasi dilakukan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun sebagai verifikator independen untuk memastikan akuntabilitas, transparansi, serta dampak keberlanjutan yang terukur bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
