Di tepian Kota Jambi, tepatnya di Kelurahan Bakung Jaya, kisah perubahan hijau sedang tumbuh perlahan namun pasti. Warga setempat menamai tempat itu Kampung Elok Batuah, sebuah simbol kebersamaan dan harapan baru menuju kemandirian energi dan ekonomi berbasis lingkungan. Program yang dijalankan oleh PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Thaha ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju PROPER Hijau Emas 2025 sekaligus bukti nyata bahwa transisi energi dapat berakar kuat dari komunitas.

Awalnya, kawasan ini menghadapi persoalan klasik berupa air limbah yang menggenang, sampah organik yang menumpuk, dan keterbatasan sumber daya ekonomi. Namun lewat kolaborasi yang terencana antara perusahaan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat, perubahan pun mulai terlihat. Tahun 2021 menjadi titik awal dari perjalanan panjang itu. Melalui inovasi teknologi sederhana namun berdampak besar, Kampung Elok Batuah kini menjelma menjadi model ekonomi sirkular yang menyatukan energi bersih, pangan sehat, dan penghidupan yang lebih bermartabat.

Salah satu inovasi unggulannya adalah EcoFilter Aqua (EFA), sistem pengolahan air drainase menjadi kolam pemancingan yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga menciptakan ruang interaksi sosial baru bagi warga. Di sisi lain hadir EcoSun Hybrid Dried (ESHD), pengering maggot bertenaga surya yang mendukung pengolahan sampah organik melalui Apartemen Maggot, rumah produksi larva Black Soldier Fly (BSF) yang mengubah limbah menjadi sumber ekonomi produktif. Dari sini muncul pula inovasi pangan sehat berupa produk albumin ikan gabus yang dimanfaatkan untuk meningkatkan gizi keluarga dan mencegah stunting di lingkungan sekitar.

Seluruh kegiatan itu beroperasi dengan dukungan panel surya berkapasitas 4,36 kWp yang memasok energi bersih untuk kebutuhan kolam, pengering, dan sistem maggot. Dari catatan verifikasi tahun 2025, penggunaan energi surya ini mampu menekan konsumsi listrik konvensional hingga 5.926 kWh per tahun, sekaligus menurunkan emisi karbon sebesar 5.802 kilogram CO₂eq per tahun. Tak hanya itu, pengelolaan sampah organik berhasil mencapai 10,5 ton per tahun, sementara program konservasi air melalui revitalisasi embung mampu menghemat lebih dari 500.000 liter air setiap tahun.

Dampak ekonominya pun nyata terasa. Pendapatan masyarakat yang semula sekitar Rp30 juta per tahun pada 2021 kini meningkat hampir tiga kali lipat menjadi Rp85 juta per tahun pada 2025. Lebih dari 310 orang telah merasakan manfaat langsung dari program ini, baik melalui usaha maggot, budidaya ikan gabus, pengelolaan ruang terbuka hijau, maupun pengembangan produk UMKM lokal. Sebagai wadah penguatan kelembagaan, warga membentuk Koperasi Tuah Berkah Bersama yang menaungi lima kelompok usaha produktif. Kehadiran koperasi ini menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi dapat tumbuh dari kesadaran kolektif menjaga lingkungan.

Kampung Elok Batuah kini menjadi representasi nyata kontribusi AFT Sultan Thaha terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada pengentasan kemiskinan (SDG 1), peningkatan gizi (SDG 2), energi bersih (SDG 7), pertumbuhan ekonomi (SDG 8), pengelolaan kota berkelanjutan (SDG 11), konsumsi dan produksi berkelanjutan (SDG 12), aksi iklim (SDG 13), serta kemitraan multipihak (SDG 17). Melalui sinergi lintas sektor, program ini juga menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana komunitas lokal dapat berperan aktif dalam agenda besar transisi menuju net zero emission.

Atas berbagai capaian tersebut, Kampung Elok Batuah mengantongi beragam penghargaan bergengsi. Dari tingkat nasional hingga internasional, program ini diakui melalui CSR Leading Impact Platinum (Asian Impact Awards 2024) di Malaysia, International CSR Excellence Award dari The Green Organisation, serta PROKLIM Kategori Utama dari KLHK. Tak ketinggalan, penghargaan Indonesia Green Awards 2024 dan Silver Award Community Development dari Universitas Diponegoro turut menegaskan bahwa inisiatif ini telah diakui sebagai model terbaik pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional.

Verifikasi independen oleh LPPM Hsamangun memperkuat akuntabilitas program ini. Melalui serangkaian observasi lapangan, wawancara, FGD, dan analisis data, lembaga ini memastikan bahwa setiap inovasi memiliki dasar ilmiah dan dampak terukur terhadap pengurangan emisi, peningkatan pendapatan, serta konservasi sumber daya alam. LPPM Hsamangun juga memberikan rekomendasi strategis untuk keberlanjutan, seperti penguatan kelembagaan koperasi, replikasi model inovasi di wilayah lain, serta integrasi program dengan kebijakan pemerintah daerah.

Kini, Kampung Elok Batuah bukan hanya tentang teknologi ramah lingkungan atau penghargaan yang diraih. Ia adalah cermin bagaimana energi bersih, pangan sehat, dan semangat kolaborasi dapat bersatu dalam satu gerakan besar menuju masa depan yang lebih lestari.

Tentang Program Kampung Elok Batuah

Program Kampung Elok Batuah merupakan inisiatif keberlanjutan yang dikembangkan oleh Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal Sultan Thaha, Jambi, sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan kesejahteraan masyarakat. Program ini mengintegrasikan teknologi hijau, pengelolaan sampah organik, serta penguatan ekonomi lokal melalui sistem kelembagaan koperasi. Pelaksanaan dan verifikasi dilakukan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun sebagai verifikator independen untuk memastikan akuntabilitas dan dampak berkelanjutan yang terukur.