Lubuklinggau tak lagi hanya dikenal dengan Sungai Kelingi yang membelah kotanya. Kini, daerah di ujung barat Sumatera Selatan itu punya cerita lain tentang warga yang bergandeng tangan bersama Pertamina membangun kampung hijau lewat program Kelingi Semare.
Dulu, pemandangan sampah di tepi sungai dan kebiasaan membakar limbah rumah tangga menjadi hal biasa di Kelurahan Lubuklinggau Ilir. Namun sejak PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Lubuklinggau hadir dengan program lingkungan berkelanjutan ini, cara pandang masyarakat terhadap sampah dan lingkungan perlahan berubah.
Tak hanya bicara soal kebersihan, Kelingi Semare menjadi wujud nyata kolaborasi untuk mengurangi emisi karbon dari sumber-sumber kecil yang kerap luput dari perhatian mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga, penghijauan pekarangan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.
Perubahan besar dimulai dari hal sederhana: sampah dapur. Melalui pelatihan dan pendampingan, warga kini rutin mengolah sisa makanan menjadi pupuk kompos dan cairan eco-enzyme. Cara ini bukan hanya menekan timbulan sampah, tetapi juga mengurangi pelepasan gas metana (CH₄) dari pembusukan organik.
Selama lima tahun pelaksanaan program, warga berhasil mengelola lebih dari 12 ton sampah organik, mencegah terbentuknya sekitar 629 kilogram gas metana yang setara dengan 17 ton karbon dioksida (CO₂e). Angka yang mungkin kecil di atas kertas, tapi besar artinya bagi bumi karena semua berasal dari aksi rumah tangga biasa.
Tak berhenti di situ, FT Lubuklinggau juga menyediakan 18 unit tempat sampah dari ban bekas dan membangun Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) untuk memastikan sistem pengelolaan berjalan berkelanjutan. Di titik inilah, ekonomi sirkular bukan lagi teori, ia tumbuh di jantung masyarakat.
Selain mengurangi emisi, program Kelingi Semare juga berfokus pada penyerapan karbon. Sejak 2021, lebih dari 1.900 pohon ditanam di area sekitar sungai dan permukiman. Jenis-jenis lokal seperti ulin, meranti, kapur, durian, dan elai menjadi pilihan utama karena memiliki daya serap karbon tinggi sekaligus nilai ekonomi.
Dari hasil pemantauan yang dilakukan bersama LPPM Hsamangun, kegiatan penghijauan ini mampu menyerap sekitar 27 ton CO₂ per tahun, atau lebih dari 80 ton CO₂ selama lima tahun berjalan.
Di sisi lain, warga khususnya ibu-ibu rumah tangga aktif menanam tanaman obat keluarga (TOGA) di pekarangan, seperti jahe, kunyit hitam, dan temulawak. Selain menambah pendapatan dan sumber pangan sehat, kegiatan ini juga menyumbang penyerapan karbon tambahan hingga 6 ton CO₂.
Kini, udara di lingkungan sekitar lebih segar, dan pekarangan rumah tak lagi gersang. Hijau bukan sekadar warna, tapi sudah menjadi budaya baru masyarakat Lubuklinggau Ilir.
Dampak positif Kelingi Semare tak hanya dirasakan dari sisi lingkungan. Program ini melahirkan UMKM SEMILIR (Semangat UMKM Lubuklinggau Ilir) yang mengolah produk-produk ramah lingkungan seperti pupuk kompos, eco-enzyme, dan pangan sehat.
Melalui pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital, masyarakat kini mampu meningkatkan rata-rata pendapatan dari Rp3 juta pada 2021 menjadi Rp3,79 juta pada 2025, melampaui Upah Minimum Provinsi Sumatera Selatan. Lebih dari 70 persen anggotanya adalah perempuan, menjadikan Kelingi Semare bukan hanya tentang lingkungan, tapi juga tentang kesetaraan dan kemandirian.
Selain itu, penguatan layanan Posyandu Sehat Berdaya turut memperkuat ketahanan gizi warga, menggunakan hasil TOGA dan bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan balita dan ibu hamil. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa keberlanjutan tidak bisa berdiri sendiri ia butuh sinergi sosial dan kepedulian kolektif.
Melalui Kelingi Semare, FT Lubuklinggau membuktikan bahwa aksi lokal bisa berkontribusi terhadap target global penurunan emisi. Program ini secara nyata mendukung upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission 2060 dan sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), di mana keberlanjutan tak hanya dilihat dari sisi lingkungan, tapi juga dari peningkatan kesehatan masyarakat, pemberdayaan perempuan, pertumbuhan ekonomi hijau, serta penguatan ekosistem sosial.
Komitmen berkelanjutan ini bahkan mengantarkan FT Lubuklinggau meraih EPSA Bronze Award 2025 untuk kategori Integrasi Pengelolaan Sampah dan Budikdamber sebagai Strategi Ketahanan Pangan Masyarakat Urban.
Lembaga verifikator independen LPPM Hsamangun menilai program ini telah melampaui kewajiban lingkungan perusahaan. Tak hanya berhasil mengurangi emisi, Kelingi Semare menciptakan sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan—dari pengelolaan limbah hingga peningkatan pendapatan warga.
Kini, Sungai Kelingi tak lagi hanya mengalirkan air, tapi juga kisah tentang perubahan. Dari kampung yang dulu dipenuhi sampah, lahir komunitas yang sadar lingkungan. Dari limbah rumah tangga, tumbuh nilai ekonomi dan harapan baru.
Kelingi Semare menjadi bukti bahwa upaya menekan emisi karbon tidak selalu dimulai dari teknologi besar atau proyek raksasa. Terkadang, langkah kecil warga kampung—memilah sampah, menanam pohon, dan menjaga pekarangan—bisa menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju bumi yang lebih hijau.
Tentang Program Kelingi Semare Fuel Terminal Lubuklinggau
Program Kelingi Semare Fuel Terminal Lubuklinggau merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui pengelolaan lingkungan berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat. Program ini mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan tutupan hijau, serta pembentukan rantai nilai hijau di tingkat lokal. Pelaksanaan dan verifikasi program dilakukan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun sebagai verifikator independen untuk memastikan akuntabilitas dan dampak keberlanjutan yang terukur.
