Di tepian Sungai Musi, tepatnya di Desa Pulau Semambu, Sumatera Selatan, geliat perubahan mulai terasa. Desa yang dulu bergantung pada solar dan listrik konvensional kini perlahan bertransformasi menjadi kampung energi bersih dan pertanian berkelanjutan. Semua bermula dari inisiatif PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Palembang melalui program Semambu Segar (Sinergi Semambu), sebuah gerakan nyata untuk membangun kemandirian energi, pangan, dan lingkungan di tingkat desa.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa tantangan di lapangan tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan semata. Masyarakat Pulau Semambu selama bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan air bersih, ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia. Pertamina melihat potensi besar untuk mengubah kondisi itu menjadi peluang. Melalui Semambu Segar, energi matahari, inovasi irigasi, dan pertanian organik dipadukan dalam satu ekosistem berkelanjutan yang memperkuat ekonomi warga sekaligus mengurangi emisi karbon.
Dibangun sejak tahun 2021, program ini menjadikan energi surya sebagai tulang punggungnya. Panel surya berkapasitas 6,54 kWp dan baterai lithium 10 kWh kini menjadi sumber listrik utama yang menggerakkan pompa air, penerangan umum, dan mesin pencacah kompos. Sumber energi bersih ini menggantikan peran bahan bakar solar yang sebelumnya menjadi beban utama petani, sekaligus menghasilkan energi bersih sebesar 26.253 kWh per tahun.
Tak berhenti di sana, sistem irigasi inovatif SWIS 2.0 (Spider Web Irrigation System) menjadi jantung kedua dari transformasi desa ini. Sistem ini menyalurkan air dari sumur bor ke reservoir utama dengan tenaga surya, kemudian mendistribusikannya secara merata melalui jaringan pipa menyerupai jaring laba-laba menuju sawah, kebun, dan pekarangan warga. Kini, air mengalir tanpa hambatan bahkan di musim kemarau, dan efisiensi penggunaan air meningkat hingga 33,8 persen.
Sementara itu, di sektor pertanian, masyarakat mulai beralih dari penggunaan pupuk kimia menuju pertanian organik. Limbah dapur dan sisa tanaman diolah menjadi pupuk kompos serta pestisida nabati yang aman bagi lingkungan. Siklus ekonomi sirkular ini membuat tanah semakin subur dan biaya operasional petani menurun. Selain menghemat pengeluaran, pertanian organik juga meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Upaya pelestarian lingkungan turut diperkuat melalui konservasi berbasis masyarakat. Ratusan lubang biopori dibuat untuk memperbaiki daya resap tanah dan mengurangi genangan air. Program reboisasi dengan tanaman endemik seperti Bidara dilakukan di sekitar lahan pertanian dan bantaran sungai, berkontribusi langsung terhadap penyerapan karbon. Total, program ini telah menurunkan emisi karbon sebesar 67,76 ton CO₂ per tahun — angka yang diverifikasi secara independen oleh LPPM Hsamangun.
Namun, yang paling menarik dari Semambu Segar bukan hanya teknologinya, melainkan bagaimana masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahap perubahan. Enam kelembagaan baru kini tumbuh di desa ini, mulai dari Kelompok Tani Gapoktan Hawai yang mengelola lahan organik, hingga Sahabat Air Semambu yang bertugas menjaga dan merawat sistem SWIS 2.0. Ada pula Kelompok Tani Peduli Api yang berperan dalam pencegahan kebakaran lahan. Melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat kini tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pengelola utama program.
Dampak sosial dan ekonomi mulai nyata terasa. Pendapatan rata-rata petani meningkat hampir 50 persen, dari Rp 2,57 juta pada 2021 menjadi Rp 3,85 juta per bulan pada 2025. Total 65 penerima manfaat langsung dan 117 penerima manfaat secara keseluruhan kini menikmati kehidupan yang lebih mandiri. Dengan sistem kelembagaan yang terus berkembang, Semambu Segar menjelma menjadi contoh sinergi antara inovasi teknologi dan kekuatan sosial masyarakat.
Lebih dari sekadar proyek CSR, Semambu Segar adalah bukti bahwa transisi energi bersih bisa dimulai dari desa. Bahwa energi matahari, air, dan tanah bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga sumber daya kehidupan. Melalui pendekatan yang menyatukan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, Pertamina IT Palembang menunjukkan bahwa pembangunan rendah karbon tidak hanya tanggung jawab global, tetapi juga gerakan lokal yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Tentang Program Semambu Segar (Sinergi Semambu)
Program Semambu Segar (Sinergi Semambu) merupakan bagian dari komitmen PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Palembang dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui integrasi energi terbarukan, pertanian organik, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan efisiensi air, serta pembentukan kelembagaan masyarakat yang berdaya dan berkelanjutan. Pelaksanaan dan verifikasi dampak dilakukan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun sebagai verifikator independen untuk memastikan akuntabilitas dan keberlanjutan program secara ilmiah dan terukur.
