Lahat — Di tengah komitmen Indonesia menuju target Net Zero Emission 2060, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lahat membuktikan bahwa inovasi pengelolaan lingkungan dapat tumbuh dari tingkat komunitas. Melalui program unggulan bertajuk Kelurahan Kota Negara Berseri, Pertamina menghadirkan pendekatan terintegrasi yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Program ini telah diverifikasi secara independen oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun, menunjukkan capaian nyata dalam mewujudkan ekonomi sirkular di wilayah operasi perusahaan.

Program Kelurahan Kota Negara Berseri berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui tiga pilar utama. Pada pilar ekonomi, penguatan dilakukan lewat pembentukan UMKM olahan jengkol yang dikelola oleh kelompok ibu-ibu Endong-Endong Maju Besame. Kelompok ini berhasil mengubah potensi lokal menjadi produk bernilai jual tinggi, membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi rumah tangga.

Pada pilar lingkungan, masyarakat didorong untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos serta memanfaatkan pekarangan untuk kegiatan urban farming. Upaya ini tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan keluarga dan mengurangi beban timbulan sampah di tingkat kelurahan. Sementara itu, pilar sosial difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat melalui berbagai pelatihan manajemen usaha, keamanan pangan, hingga pemasaran digital.

Dampak lingkungan yang dihasilkan dari program ini terukur dan signifikan. Melalui pengelolaan sampah organik dan penanaman di pekarangan, program ini mampu mereduksi emisi sebesar ±3,75 ton CO₂-eq per tahun, yang terdiri dari ±3,56 ton CO₂-eq dari pengelolaan sampah organik dan ±0,19 ton CO₂-eq dari penyerapan karbon tanaman. Setiap kilogram sampah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan gas metana kini menjadi kompos yang menyuburkan tanah dan bernilai ekonomi.

Dari aspek sosial-ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat menjadi bukti bahwa program ini membawa manfaat langsung. Rata-rata pendapatan keluarga binaan meningkat hingga 41,08% per tahun, bahkan telah mencapai 107,18% dari Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan 2025. Lebih dari 80% anggota kelompok adalah perempuan, yang memperkuat kontribusi program terhadap SDG 5: Kesetaraan Gender, sekaligus menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan adalah bagian penting dari strategi keberlanjutan.

Keberhasilan ini juga didukung oleh peningkatan kapasitas masyarakat melalui enam jenis pelatihan selama satu tahun, mencakup manajemen usaha, keamanan pangan, pemasaran digital, serta pengelolaan limbah rumah tangga. Total 50 penerima manfaat langsung dan 150 penerima manfaat tidak langsung kini merasakan dampak program, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Inovasi yang dihadirkan Fuel Terminal Lahat terletak pada penerapan model ekonomi sirkular berbasis komunitas. Sistem ini menciptakan rantai tertutup: sampah menjadi kompos, kompos mendukung urban farming, hasil urban farming menjadi bahan baku UMKM, dan produk UMKM menghasilkan nilai ekonomi baru. Transformasi ini mengubah sistem linier buang-bakar menjadi sistem sirkular yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Perubahan perilaku masyarakat menjadi nilai penting lain yang dicapai. Dari sekadar penerima bantuan, warga kini menjadi pelaku usaha yang aktif dan memiliki kesadaran lingkungan tinggi. Pola pikir “sampah sebagai beban” telah bergeser menjadi “sampah sebagai sumber daya”, memperkuat konsep keberlanjutan di tingkat akar rumput.

Untuk menjaga keberlanjutan, sejumlah rekomendasi telah disusun, antara lain penguatan kapasitas kelompok melalui pelatihan lanjutan, replikasi model ke wilayah Ring 1 lainnya, peningkatan kolaborasi multipihak, serta pelaksanaan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Semua langkah ini diarahkan agar dampak positif program dapat terus tumbuh dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Melalui sinergi antara inovasi sosial, ekonomi sirkular, dan aksi iklim, Fuel Terminal Lahat membuktikan bahwa kontribusi menuju Net Zero Emission 2060 dapat dimulai dari skala lokal, dari masyarakat, untuk bumi yang lebih lestari.

Tentang Program Kelurahan Kota Negara Berseri

Program ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lahat dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan dan verifikasi program dilakukan bersama LPPM Hsamangun sebagai verifikator independen, memastikan akuntabilitas serta dampak keberlanjutan yang terukur.

Model ini telah terbukti mampu menciptakan nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan secara seimbang (beyond compliance), menjadi contoh nyata bahwa transisi menuju keberlanjutan dapat dimulai dari komunitas lokal.

Penulis
Nice Nurhayati – LPPM Hsamangun