Desa Martadinata di pesisir Kutai Timur kini dikenal bukan hanya karena hijaunya alam Kalimantan, tetapi juga karena semangat warganya menanam perubahan. Di sinilah Program Permata Borneo lahir, sebuah inisiatif yang menjadikan ekowisata, pertanian organik, dan energi terbarukan sebagai tiga pilar kehidupan baru bagi masyarakat.
Program yang digerakkan bersama PT Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (PERTAGAS OKA) ini tumbuh dari kegelisahan atas dua hal: berkurangnya produktivitas lahan dan ancaman lingkungan akibat penggunaan energi fosil. Kini, berkat pendekatan inovatif dan kolaboratif, desa ini menjelma menjadi laboratorium hidup bagi ekonomi hijau di Kalimantan Timur.
Irigasi Hijau dan Cahaya Surya di Tengah Lahan Pertanian
Di antara deretan kebun organik Martadinata, berdiri panel surya dengan kapasitas 5.500 Watt sebagai sumber energi yang menghidupi sistem irigasi pertanian. Dengan teknologi ini, petani tak lagi bergantung pada bahan bakar fosil yang mahal dan mencemari.
Peralihan ini terbukti menekan emisi karbon hingga 1.530,9 kilogram CO₂ per tahun, sekaligus meningkatkan efisiensi air bagi pertanian organik yang mulai dikembangkan masyarakat sejak 2022.
Selain itu, limbah organik dari pertanian kini diolah menjadi media tanam jamur dan pupuk organik. Tidak hanya mengurangi beban lingkungan, inovasi ini membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok usaha desa.
Ekowisata dan Madu Kelulut: Menyatu dengan Alam
Warga Martadinata percaya bahwa alam yang dijaga akan memberi kehidupan. Karena itu, potensi wisata alamnya dikelola secara bijak melalui jalur susur goa, edukasi hutan, dan wisata madu kelulut.
Madu kelulut menjadi ikon baru, hasil budidaya lebah tanpa sengat yang tak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membantu penyerbukan alami di sekitar kawasan hutan. Pendapatan kelompok ekowisata meningkat hingga Rp 575.000 per bulan, menunjukkan bahwa keberlanjutan juga bisa membawa kesejahteraan.
Menariknya, perempuan desa kini ikut aktif dalam rantai usaha ekowisata dan pengolahan produk lokal. Jumlahnya meningkat dari hanya satu orang pada 2022 menjadi tiga orang pada 2025. Perubahan kecil ini menandai pergeseran besar dalam peran sosial dan kesetaraan gender di tingkat lokal.
Inovasi dari Hutan: Deteksi Illegal Logging Berbasis IoT
Dari tangan anak-anak muda Martadinata lahir inovasi membanggakan berupa alat pendeteksi illegal logging berbasis Internet of Things (IoT) yang telah dipatenkan. Teknologi ini menjadi simbol sinergi antara kearifan lokal dan kemajuan digital untuk menjaga hutan tetap lestari.
Menanam Karbon, Menumbuhkan Harapan
Melalui penghijauan di lahan seluas 2,3 hektar, program ini berhasil menyerap 43,2 ton CO₂, memperkuat kontribusi masyarakat terhadap mitigasi perubahan iklim global. Dampak tersebut tidak hanya menyejukkan udara, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa bumi hanya akan pulih jika semua pihak bergerak bersama.
Kini, di bawah payung kelembagaan BUMDes Mitra Borneo, semangat keberlanjutan itu semakin kokoh. Desa Martadinata menjadi cermin bagaimana transisi energi, konservasi hutan, dan ekonomi rakyat dapat berpadu dalam harmoni.
Program Permata Borneo mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 1, 2, 5, 7, 8, 12, dan 13, dan menjadi bukti nyata bahwa perjalanan menuju net zero emission bisa dimulai dari desa, dari masyarakat yang mencintai tanahnya sendiri.
Tentang Program Permata Borneo
Program Permata Borneo merupakan bagian dari komitmen PT Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (PERTAGAS OKA) dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. Program ini menekankan integrasi antara energi bersih, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi desa melalui ekowisata, pertanian organik, serta inovasi teknologi ramah lingkungan.
Pelaksanaan dan verifikasi program dilakukan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Hsamangun sebagai verifikator independen untuk memastikan akuntabilitas, dampak sosial, dan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon.
